Langsung ke konten utama

KEMBALI MELESTARIKAN SINGIR, KENAPA TAKUT?

 

Singir merupakan salah satu genre sastra Jawa yang lazim dilantunkan oleh masyarakat muslim Jawa ketika pelaksanaan tahlilan dalam upacara Nyadran, atau Nyewu. Salah satu upacara tradisi Jawa dalam peringatan seribu hari kepada orang yang telah meninggal.

Secara substansial, Singir (Bahasa Jawa) yang identik dengan kata syi’ir (Bahasa Arab) atau syair (Bahasa Melayu) merupakan karya sastra dengan muatan ajaran tauhid, fiqih, tarikh, akhlaq, dan ajaran Islam lainnya.



Pada umumnya, Singir tidak sekadar dibaca. Namun, singir tersebut dilantunkan (ditembangkan) dengan penuh penghayatan oleh seorang kaum atau badal terpercaya dengan iringan kalimat tauhid atau sahadat yang dilafalkan para pengikut tahlilan. Degan demikian, para pengikut tahlilan yang berikrar bahwa “Tiada Tuhan selain Allah, dan Nabi Muhammad utusan Allah” tersebut memantabkan diri sebagai muslim.

Seiring perkembangan zaman, Singir yang semula sebagai produk budaya pesantren dan berkembang di lingkup masyarakat muslim Jawa tersebut lambat-laun surut hingga jarang terdengar gaungnya. Sungguhpun masih dilestarikan oleh beberapa kelompok masyarakat muslim Jawa di pelosok pedesaan, namun kehidupan Singir senasib seorang jompo yang berdiri di tepi lubang kubur.

Mengingat sarat dengan ajaran adiluhung, Singir harus kembali diperkenalkan, dijaga kelestariannya, dan dikembangkan. Upaya tersebut bukan hanya dilakukan oleh masyarakat muslim Jawa, namun pula oleh dinas-dinas kebudayaan yang memiliki komitmen terhadap pelesatarian budaya Jawa. Karenanya kolaborasi yang baik dari kedua pihak tersebut harus direalisasikan. (Sri Wintala Achmad)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENGENAL BERBAGAI GENRE SENI SHOLAWATAN

DITINJAU dari bahasanya, Sholawatan (Slawatan) yang merupakan salah satu genre seni tradisi tersebut terbagi ke dalam Sholawatan Arab, Sholawatan Jawa-Arab, dan Sholawatan Jawa. Disebut Sholawatan Arab, karena lirik lagunya menggunakan bahasa Arab. Sholawatan Jawa-Arab, karena lirik lagunya menggunakan bahasa paduan Jawa-Arab. Sementara, Sholwatan Jawa menggunakan bahasa Jawa dalam lirik lagunya. Berdasarkan napas religinya, Sholawatan dibagi menjadi dua yakni Sholawatan Islam dan Sholawatan Katolik yang sering disebut Slaka. Sholawatan Islam sendiri terbagi ke dalam lima jenis, yakni: Sholawatan Pitutur, Sholawatan Srokal (Asroqol), Sholawatan Maulud, dan Sholawatan Emprak. Sholawatan Pitutur Sholawatan Pitutur yang diiringi slenthem, gender, gong, kendang batangan (gamelan) dan kempul, ketuk, kenting (terbang) berlirik Jawa dan Arab. Para penyolawat bukan hanya laki-laki, namun pula perempuan. Sholawatan Pitutur ini hampir mirip dengan Santi Suara. Selaras namanya, Sholawatan...

GENERASI MILENIAL, PENENTU HIDUP- MATINYA SLAWATAN JAWA

Banyak seni tradisi yang sekarat di negerinya sendiri. Sejatinya, sekaratnya seni tradisi bukan karena pengaruh seni modern. Akan tetapi, para pewarisnya yang tidak merasa handarbeni . Hingga mereka tidak mau melestarikan, mengembangkan, dan memosisikan seni tradisi sebagai tuntunan dan tontonan yang sarat tatanan . Lebih tragis, para pewaris cenderung menempatkan seni tradisi lebih rendah dari seni modern. Tidak heran mereka malu untuk mengakui seni tradisi sebagai miliknya. Mengakui saja, mereka tidak mau. Bagaimana mungkin, mereka menjadi pelaku seni (seniman) tradisi? Mengingat tidak mendapat sentuhan pelestarian dari para pewarisnya, banyak seni tradisi yang mati. Akibatnya, generasi milenial tidak mengenal seni tradisi, seperti: Dhadhung Awuk, Srandhul, Rodat, Emprak, Kethoprak Lesung, Wayang Beber, Tayub, Wayang Thengul, Wayang Klithik, Wayang Wong, Langendriyan, dsb. Memang terdapat beberapa genre seni tradisi yang masih mendapat perhatian publik, semisal: Wayang Purwa,...

GLADHEN PERSIAPAN SHOLAWATAN PERINGATAN MAULUD NABI DAN PITULASAN

Dengan dihadiri sejumlah anggotanya, Paguyuban Sholawat Langen Ambiya dari kampung Gejawan Kulon, Balecatur, Gamping, Sleman, Yogyakarta mengadakan latihan di Joglo Jagabayan (15/7). Latihan yang dimulai sejak pukul 20.30 hingga 00.15 WiB tersebut ditujukan sebagai persiapan Gelar Sholawat Jawa dalam rangka Peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW pada tanggal 28 Septermber 2023. Latihan Sholaewatan Jawa semalam ditujukan sebagai persiapan pentas dalam acara syukuran Bapak Parimin (Selasa, 25 Juli 2023). Menurut Bapak Sarwoto, selaku pimpinan Paguyuban Sholawat Jawa Langen Ambiya, latihan semalam juga ditujukan sebagai persiapan pentas dalam rangka Peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-78 di Joglo Jagabayan pada Sabtu 19 Agustus 2023. Melalui gelar sholwat diharapkan Indonesia akan senantiasa damai dan sejahtera. (SWA)