Langsung ke konten utama

GENERASI MILENIAL, PENENTU HIDUP- MATINYA SLAWATAN JAWA



Banyak seni tradisi yang sekarat di negerinya sendiri. Sejatinya, sekaratnya seni tradisi bukan karena pengaruh seni modern. Akan tetapi, para pewarisnya yang tidak merasa handarbeni. Hingga mereka tidak mau melestarikan, mengembangkan, dan memosisikan seni tradisi sebagai tuntunan dan tontonan yang sarat tatanan.


Lebih tragis, para pewaris cenderung menempatkan seni tradisi lebih rendah dari seni modern. Tidak heran mereka malu untuk mengakui seni tradisi sebagai miliknya. Mengakui saja, mereka tidak mau. Bagaimana mungkin, mereka menjadi pelaku seni (seniman) tradisi?

Mengingat tidak mendapat sentuhan pelestarian dari para pewarisnya, banyak seni tradisi yang mati. Akibatnya, generasi milenial tidak mengenal seni tradisi, seperti: Dhadhung Awuk, Srandhul, Rodat, Emprak, Kethoprak Lesung, Wayang Beber, Tayub, Wayang Thengul, Wayang Klithik, Wayang Wong, Langendriyan, dsb.

Memang terdapat beberapa genre seni tradisi yang masih mendapat perhatian publik, semisal: Wayang Purwa, Kethoprak, Dagelan Mataram, Kuda Lumping, dan Angguk. Namun, kesenian yang sudah bercorak gagrak anyar tersebut cenderung sebagai tontonan. Bukan tuntunan yang mengandung tatanan. Dampaknya, nilai-nilai edukatif dan filosofis yang merupakan ruh dalam kesenian tersebut tercerabut.

Sekalipun demikian, terdapat beberapa seni tradisi yang dijaga keasliannya. Salah satunya yakni Slawatan (Sholawatan) Jawa. Kesenian yang semula dilantunkan di pondok-pondok pesantren hingga lambat-laun mengalami perkembangan di lingkup masyarakat desa.

Slawatan Jawa: Tontonan dan Tuntunan

Disebut Slawatan Jawa karena seni yang merupakan akulturasi budaya Islam dan Jawa tersebut tidak hanya menggunakan bahasa Arab, namun juga Jawa. Hal tersebut sebagai pembeda dengan Slawatan Arab yang sepenuhnya menggunakan bahasa Arab.

Sekalipun berbeda bahasa, Slawatan Jawa dan Slawatan Arab menggunakan seperangkat alat musik yang sama, yakni: Kendhang Batangan (Kendhang Dhodhog), Gong, Kempul, Kethuk, dan Kenting. Syair-syair kedua jenis slawatan tersebut dilantunkan dengan nada pentatonis lan dilafalkan ala orang Jawa. Nuansa ke-Jawa-an itulah yang membedakan Slawatan dengan Hadroh, Samroh, Qasidah, atau Musik Padang Pasir.


Berbeda dengan beberapa genre musik Islami yang berkembang di tanah Melayu dan Arab, Slawatan Jawa tidak cenderung sebagai tontonan. Mengingat para penyelawat yang duduk bersila dalam bentuk segi empat tersebut cenderung memuji dan memohon pada Allah SWT atas keselamatan Nabi Muhammad SAW. Tidak elok, bila Slawatan Jawa sekadar dijadikan media hiburan bagi khalayak.

Dalam perkembangannya, Slawatan Jawa menjadi tontonan ketika Pemerintah Daerah melalui Dinas Kebudayaan yang hendak menyosialisasikan seni tersebut memanggungkannya dalam event lomba atau festival. Pada era digital, banyak video Slawatan Jawa yang dikemas sebagai tontonan dipublikasikan melalui channel YouTube.

Meskipun Slawatan Jawa mulai menjadi tontontan, namun tidak meninggalkan fungsinya sebagai tuntunan. Di samping dituangkan baik secara tersurat maupun tersirat dalam setiap syairnya, tuntunan tersebut disampaikan secara simbolik pada kelima alat musiknya.

Lima macam alat musik dalam Slawatan Jawa yang disebutkan di muka melambangkan Rukun Islam, yakni: Sahadat, Salat, Puasa, Zakat, dan Haji. Dalam sufistik Jawa, kelima alat musik tersebut pula melambangkan Sedulur Papat (Gong, Kempul, Kethuk, Kenting) dan Kalima Pancer (Kendhang). 

Berperan sebagai pancer, Kendhang dimaknai sebagai kesentosaan jiwa manusia. Gong, Kempul, Kethuk, dan Kenting melambangkan keempat nafsu manusia, yakni: amarah, supiyah, aluamah, dan mutmainah. Melalui kesentosan jiwa, manusia yang sanggup mengendalikan seluruh nafsunya dapat manunggal dengan Tuhan. Manunggaling kawula-Gusti yang merupakan kunci untuk mencapai kasampurnaning dumadi tersebut merupakan ajaran utama dalam Slawatan Jawa.

Kemanunggalan kosmis dapat ditunjukkan dengan dua anasir dalam Slawatan jawa, yakni: sastra dan gendhing. Dua anasir yang menjadi pokok ajaran dalam Serat Sastra Gendhing karya Sultan Agung (Raja Mataram, 1613-1645) tersebut melambangkan kristalisasi hubungan antara jagad alit (manusia) dengan jagad ageng (Tuhan).

Kemanunggalan kosmis yang merupakan tujuan Slawatan Jawa pula ditunjukkan ketika para penyelawat mengidung dengan suara ngelik. Dari nada melengking tinggi tersebut, para penyelawat dapat mengalami kemabukan Illahi sebagaimana yang didambakan kaum Sufi. Sehingga sesudah lagu dilantunkan, para penyelawat merasa tenteram. Sehat jiwa dan raganya.

Dua Faktor Penyebab Suramnya Slawatan Jawa

Sekalipun Slawatan Jawa merupakan seni adilhung karena sarat tuntunan hidup bagi manusia, namun nasibnya kian suram. Melihat fakta tersebut, Dinas Kebudayaan Kabupaten Gunung Kidul bertujuan menyelenggarakan Festival Slawatan 2022. Festival yang diikuti oleh kelompok Slawatan dari seluruh kapanewon tersebut dilaksanakan di Gedung Sewakapraja, Gunungkidul.          

Suramnya nasib Slawatan Jawa tidak hanya dibuktikan dengan jarangnya pementasan, namun pula semakin berkurangnya paguyuban baik di Kabupaten Bantul, Kulonprogo, Sleman, atau Kota. Kalau toh masih ada paguyuban, sekadar bertahan. Pengertian lain, paguyuban yang tidak mengalami perkembangan tersebut kelak bisa punah.

Realitas suramnya paguyuban Slawatan Jawa dikarenakan faktor internal dan eksternal. Faktor internal dapat ditunjukkan bahwa sebagian anggotanya sudah meninggal. Sementara, anggota yang masih hidup sudah uzur usianya. Selain vokalnya fals, anggota tersebut tidak mampu menyelawat selama berjam-jam.

Selagi masih eksis, paguyuban tidak melakukan regenerasi keanggotaaan. Ketika zaman berubah, generasi milenial yang lebih menggandrungi seni modern tidak tertarik menjadi anggota. Gagalnya regenerasi tersebut cenderung sebagai penyebab utama bubarnya paguyuban di beberapa daerah.

Faktor eksternal dapat ditunjukkan bahwa sewaktu paguyuban masih serupa jamur di musim hujan tersebut tidak mendapat perhatian pemerintah pada masa itu. Penyebab lain, sebagian masyarakat lebih membanggakan seni modern ketimbang seni tradisi. Akibatnya, mereka tidak tertarik menyelawat Jawa. Mereka lebih tertarik sebagai konsumen (pelaku) seni modern yang dianggap dapat mendongkrak gengsi. 

Melestarikan Slawatan Jawa, Menggandeng Generasi Milenial

Terdapat faktor lain yang menyebabkan nasib Slawatan Jawa semakin suram. Di mana, generasi milenial tidak tertarik dengan kesenian tradisi tersebut. Mengingat sejak kecil, mereka tidak kenal (diperkenalkan) oleh orang tua atau masyarakatnya dengan Slawatan Jawa.

Menyadari pelestarian Slawatan Jawa sangat tergantung pada regenerasi yang berkesinambungan, banyak paguyuban berupaya memerkenalkan kesenian tersebut pada generasi milenial. Salah satu paguyuban yang memiliki komitmen tersebut adalah Langen Ambiya. Suatu paguyuban Slawan Jawa yang berdomisili di dusun Gejawan Kulon, Balecatur, Gamping, Sleman, Yogyakarta.

Di bawah kepemimpinan Sarwoto, Paguyuban Langen Ambiya bertekad memerkenalkan Slawatan Jawa pada generasi milenial. Sungguhpun upaya tersebut tidak semudah membalik telapak tangan, namun Langen Ambiya terus mencoba dengan berbagai strategi. Tentu saja, strategi yang diterapkan senantiasa mengacu pada falsafah Jawa, yakni: Entuk iwake ora buthek banyune.

Selain melakukan latihan rutin pada setiap Malam Minggu Pon, Paguyuban Langen Ambiya memublikasikan dokumentasi karya-karyanya dalam bentuk video melalui channel Pawarta Jawa TV. Ketika mengetahui video-video yang dipublikasikan di YouTube ditonton ribuan orang, banyak generasi milenial tidak memandang Seni Slawatan dengan sebelah mata. Bahkan, banyak dari mereka mulai ingin belajar menyelawat. 

Upaya Paguyuban Langen Ambiya di dalam memerkenalkan seni Slawatan Jawa di lingkup generasi milenial tidak hanya sampai di situ. Pada masa akan datang, Langen Ambiya akan merealisasikan program produksi Video Klip Slawatan Jawa. Suatu program yang bertujuan untuk mendokumentasikan syair-syair dalam Babad Ambiya tersebut akan melibatkan generasi milenial. Sekalipun hanya sebagai dubbing vokal, mereka akan dapat mengenal produk budaya warisan leluhurnya.

Berawal dengan mengenal, Paguyuban Langen Ambiya berharap agar generasi milenial dapat mencintai Slawatan Jawa. Dengan mencintai kesenian tersebut, generasi milenial tentu akan menjaga kelestariannya. Bahkan, mereka akan mengembangkan kesenian tersebut selaras dengan zamannya.

Peran Dinas Kebudayaan dalam Pelestarian Slawatan Jawa

Tidak dipungkiri bahwa mati-hidupnya Slawatan Jawa sangat tergantung pada generasi muda. Bila generasi yang hidup pada era milenial tersebut sudah tidak peduli, maka kesenian tersebut dapat dipastikan mati. Sebagaimana, kesenian tradisi lainnya yang mati karena generasi muda waktu itu tidak peduli untuk melestarikannya. Apa lagi mengembangkannya.            

Berpijak pendapat di muka, maka upaya menggandeng generasi milenial dalam prospek pelesatarian Slawatan Jawa yang dilakukan Langen Ambiya dan paguyuban-paguyuban lain di Yogyakarta layak didukung. Bukan hanya oleh para pecintanya, namun pula oleh Dinas Kebudayaan di tingkat Kabupaten dan Provinsi.

Dukungan yang pantas diberikan oleh Dinas Kebudayaan pada seluruh paguyuban Slawatan Jawa dalam merealisasikan upaya pelestarian Slawatan Jawa berupa tutur, wur, dan sembur. Tutur, di mana Dinas Kebudayaan harus menjadi mitra paguyuban yang selalu membina. Wur, Dinas Kebudayaan wajib memberikan bantuan finansial. Sembur, Dinas Kebudayaan harus memberikan solusi cerdas ketika paguyuban menghadapi kendala di dalam merealisasikan upaya tersebut.

Selain memberikan dukungan pada seluruh paguyuban, Dinas Kebudayaan dapat melaksanakan program pelestarian Slawatan Jawa melalui regenarasi. Mengingat faktor regenerasi inilah yang menjadi persoalan klise di dalam kehidupan Slawatan Jawa dari masa ke masa.

Di dalam upaya regenerasi sebagai antisipasi terhadap punahnya Slawatan Jawa, Dinas Kebudayaan dapat merealisasikan program yang ditempuh dengan pengenalan dan pelibatan generasi milenial. Tahap pengenalan pada generasi milenial dapat berupa workshop; lomba esai bertema Melestarikan Slawatan Jawa; diskusi, seminar, atau rembug budaya.

Pada tahap ini, hendaklah generasi milenial bukan sekadar diperkenalkan dengan Slawatan Jawa pada sisi permukaannya; namun pula berkaitan dengan sejarah, filosofi, dan ajarannya. Mereka bukan sekadar dilatih teknik vokal ngelik di dalam menyelawat, namun lebih diajarkan bagaimana menghayati ketika melantunkan syair-syair dalam Slawatan Jawa. Sehingga, mereka dapat membentuk karakter melalui kesenian tersebut.

Pada tahap pelibatan. Selayaknya Dinas Kebudayaan yang mengemban amanat sebagai pelestari budaya seyogianya menyelenggarakan event pementasan, festival, atau lomba Slawatan Jawa. Di dalam penyelenggaraan event tersebut, semustinya Dinas Kebudayaan melibatkan generasi milenial. Bila perlu, event tersebut sepenuhnya diikuti oleh generasi milenial.

Selain event khusus, Slawatan Jawa ala generasi milenial musti dilibatkan oleh Dinas Kebudayaan dalam event seni dan budaya, semisal: Festival Kesenian Yogyakarta (FKY), Pasar Kangen, Temu Sastra Jawa, Kongres Bahasa Jawa, dll. Hal ini dimaksudkan agar Slawatan Jawa kembali menggema pada era milenial.

Catatan Akhir

Dakui bahwa Slawatan Jawa masih bernasib mujur. Selain dilestarikan oleh sebagian masyarakat Jawa, kesenian tersebut masih dijaga kemurniannya. Namun, kesenian tersebut akan bernasib naas bila tidak dibarengi regenerasi anggota paguyuban dan dukungan dari pihak-pihak terkait, khususnya Dinas Kebudayaan.

Keterlibatan generasi milenial dalam Slawatan Jawa sangat diperlukan. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan napas kehidupan Slawatan Jawa ke depannya, dan sekaligus memertahankan kesenian tersebut sebagai media pembentukan karakter bagi generasi milenial. Mengingat selain sebagai tontonan, Slawatan Jawa sebagai tuntunan bagi generasi milenial dalam membangun moral dan spiritualnya.

Dalam konteks pelestarian Slawatan Jawa yang memiliki prospek pendidikan moral dan spiritual pada generasi milenial, maka keberadaan paguyuban Langen Ambiya dan paguyuban-paguyuban lain yang tersebar di Yogyakarta layak diselamatkan dari kepunahannya. Karena sangat diharapkan agar paguyuban-paguyuban tersebut bukan sebatas didata dan diberikan Nomer Induk Kebudayaan (NIK) oleh Dinas Kebudayaan, namun lebih didukung pelestarian dan perkembangannya di masa mendatang.

Melalui kesinergian antara paguyuban-paguyuban dengan Dinas Kebudayaan, Slawatan Jawa dapat lestari dan berkembang. Kesinergian kedua belah pihak tersebut akan menjamin penyelamatan moral dan spiritual generasi milenial melalui Slawatan Jawa. Seni adiluhung warisan para leluhur.(Sri Wintala Achmad)

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENGENAL BERBAGAI GENRE SENI SHOLAWATAN

DITINJAU dari bahasanya, Sholawatan (Slawatan) yang merupakan salah satu genre seni tradisi tersebut terbagi ke dalam Sholawatan Arab, Sholawatan Jawa-Arab, dan Sholawatan Jawa. Disebut Sholawatan Arab, karena lirik lagunya menggunakan bahasa Arab. Sholawatan Jawa-Arab, karena lirik lagunya menggunakan bahasa paduan Jawa-Arab. Sementara, Sholwatan Jawa menggunakan bahasa Jawa dalam lirik lagunya. Berdasarkan napas religinya, Sholawatan dibagi menjadi dua yakni Sholawatan Islam dan Sholawatan Katolik yang sering disebut Slaka. Sholawatan Islam sendiri terbagi ke dalam lima jenis, yakni: Sholawatan Pitutur, Sholawatan Srokal (Asroqol), Sholawatan Maulud, dan Sholawatan Emprak. Sholawatan Pitutur Sholawatan Pitutur yang diiringi slenthem, gender, gong, kendang batangan (gamelan) dan kempul, ketuk, kenting (terbang) berlirik Jawa dan Arab. Para penyolawat bukan hanya laki-laki, namun pula perempuan. Sholawatan Pitutur ini hampir mirip dengan Santi Suara. Selaras namanya, Sholawatan...

GLADHEN PERSIAPAN SHOLAWATAN PERINGATAN MAULUD NABI DAN PITULASAN

Dengan dihadiri sejumlah anggotanya, Paguyuban Sholawat Langen Ambiya dari kampung Gejawan Kulon, Balecatur, Gamping, Sleman, Yogyakarta mengadakan latihan di Joglo Jagabayan (15/7). Latihan yang dimulai sejak pukul 20.30 hingga 00.15 WiB tersebut ditujukan sebagai persiapan Gelar Sholawat Jawa dalam rangka Peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW pada tanggal 28 Septermber 2023. Latihan Sholaewatan Jawa semalam ditujukan sebagai persiapan pentas dalam acara syukuran Bapak Parimin (Selasa, 25 Juli 2023). Menurut Bapak Sarwoto, selaku pimpinan Paguyuban Sholawat Jawa Langen Ambiya, latihan semalam juga ditujukan sebagai persiapan pentas dalam rangka Peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-78 di Joglo Jagabayan pada Sabtu 19 Agustus 2023. Melalui gelar sholwat diharapkan Indonesia akan senantiasa damai dan sejahtera. (SWA)