Langsung ke konten utama

MENGENAL BERBAGAI GENRE SENI SHOLAWATAN


DITINJAU dari bahasanya, Sholawatan (Slawatan) yang merupakan salah satu genre seni tradisi tersebut terbagi ke dalam Sholawatan Arab, Sholawatan Jawa-Arab, dan Sholawatan Jawa. Disebut Sholawatan Arab, karena lirik lagunya menggunakan bahasa Arab. Sholawatan Jawa-Arab, karena lirik lagunya menggunakan bahasa paduan Jawa-Arab. Sementara, Sholwatan Jawa menggunakan bahasa Jawa dalam lirik lagunya.

Berdasarkan napas religinya, Sholawatan dibagi menjadi dua yakni Sholawatan Islam dan Sholawatan Katolik yang sering disebut Slaka. Sholawatan Islam sendiri terbagi ke dalam lima jenis, yakni: Sholawatan Pitutur, Sholawatan Srokal (Asroqol), Sholawatan Maulud, dan Sholawatan Emprak.

Sholawatan Pitutur


Sholawatan Pitutur yang diiringi slenthem, gender, gong, kendang batangan (gamelan) dan kempul, ketuk, kenting (terbang) berlirik Jawa dan Arab. Para penyolawat bukan hanya laki-laki, namun pula perempuan. Sholawatan Pitutur ini hampir mirip dengan Santi Suara.

Selaras namanya, Sholawatan Pitutur memberikan ajaran, wewarah, atau petuah baik kepada para penyolawat maupun orang-orang yang menyimaknya. Ajaran tersebut cenderung bersifat spiritual yang bertujuan untuk memererat hubungan transendental. Hubungan antara manusia dengan Allah SWT.

Sholawatan Srokal

Sholawatan Srokal yang diiringi musik terbang menggunakan lirik berbahasa Arab.  Mengacu pada liriknya, Sholawatan ini ditujukan untuk mendoakan dan memuji kemuliaan Nabi Muhammad SAW. Rosul kekasih Allah SWT yang jiwanya diperumpamakan matahri atau bulan. Pemberi terang pada kegelapan.

Pada saat melantunkan Sholawatan Srokal, para penyolawat berdiri sambil menadahkan kedua telapak tangan. Namun ada pula dari mereka yang melantunkannya dengan berjalan. Sementara, orang-orang yang tidur untuk dibangunkan agar mendengarkan dan mendapatkan anugerah Ilahi saat sholawatan tersebut dilantunkan.

Sholawatan Maulud

Selaras namanya, Sholawatan Maulud mengisahkan kelahiran Nabi Muhammad SAW yang bertepatan bulan Maulud. Karenanya, sholawatan tersebut sering digunakan sabagai pengiring pertunjukan drama tradisional Emprak.

Sholawatan Maulud yang dilantunkan dengan iringan musik terbang (kendhang batangan atau kendang dodoK, gong, kempul, ketuk, dan kenting) tersebut sering disertai pedhalangan. Karenanya, sholawatan tersebut sering menggunakan keprak sebagaimana dalam seni ketoprak.

Di dalam Sholawatan Maulud yang sering dikidungkan dengan suara ngelik sering diakhiri dengan srokal. Karenanya, Sholawat Srokal merupakan bagian dari Sholawat Maulud atau Sholawatan Emprak. Namun, srokal hanya dikidungkan pada event atau hajat tertentu.

Sholawatan Emprak

Disebut Sholawatan Emprak karena kesenian tersebut dgunakan sebagai pengiring pertunjukan Emprak. Suatu seni tradisional yang bernapaskan Islami di mana seluruh paraga-nya menari saat memasuki dan meninggalkan panggung. Musik dalam Sholawatan Emprak juga untuk mengiringi saat antawacana ratu dengan patih atau malaikat (nabi) dengan  Siti Aminah.

Sebagaimana disinggung di muka bahwa Sholawatan Emprak berkaitan dengan Sholawat Maulud. Sholawat yang mengisahkan tentang kelahiran Nabi Muhammad SAW. Suatu kisah  yang diawali dengan pengembaraan Retna Indasah, putri adipati Ngesam yang berhasrat mencari pria idamannya. Raden Abdullah, putra adipati Abdul Muntalib dari Mekah.

Melalui pengembaraan cinta Retna Indasah dapat ditangkap bahwa Sholawat Emprak mengajarkan bahwa jodoh berada mutlak di tangan Allah SWT. Mengingat semula Retna Indasah yang berkehendak untuk disunting Raden Abdullah berakhir menikah dengan Raden Abu Sopyan, putra pendeta Fajar Sidik dari Ngandum Sekar. Sementara, Raden Abdullah menikah dengan Siti Aminah sesudah menundukkan raja-raja pelamar.

Pernikahan Raden Abdullah dengan Siti Aminah berjalan tanpa mendapatkan kendala. Akan tetapi ketika Siti Aminah mengandung, Raden Abdullah meninggal di desa Ngabuh sepulang berdagang. Pada saat mengandung, Siti Aminah yang masih dalam suasana duka-cita itu mendapatkan wangsit dari dua malaikat dan sembilan nabi yang telah tinggal di surga. Dari wangsit tersebut, Siti Aminah mengetahu bahwa putranya kelak akan menjadi nabi atau rosulullah. Beliau adalah Nabi Muhammad SAW. 

Melalui cerita yang diusung dalam Emprak (Sholawatan Emprak) dapat diambil nilai-nilai rekreatif, kreatif, dan edukatif. Sungguhpun seni yang berkembang secara tutur tinular tersebut sedikit menyimpang dari fakta sejarah, namun tetap menunjukkan kreativitas orang Jawa di dalam mengolah suatu kisah. Hingga seni tersebut menjadi tontonan yang menarik pada zamannya.  (Sri Wintala Achmad, pengamat seni tradisi tinggal di Yogyakarta)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

GENERASI MILENIAL, PENENTU HIDUP- MATINYA SLAWATAN JAWA

Banyak seni tradisi yang sekarat di negerinya sendiri. Sejatinya, sekaratnya seni tradisi bukan karena pengaruh seni modern. Akan tetapi, para pewarisnya yang tidak merasa handarbeni . Hingga mereka tidak mau melestarikan, mengembangkan, dan memosisikan seni tradisi sebagai tuntunan dan tontonan yang sarat tatanan . Lebih tragis, para pewaris cenderung menempatkan seni tradisi lebih rendah dari seni modern. Tidak heran mereka malu untuk mengakui seni tradisi sebagai miliknya. Mengakui saja, mereka tidak mau. Bagaimana mungkin, mereka menjadi pelaku seni (seniman) tradisi? Mengingat tidak mendapat sentuhan pelestarian dari para pewarisnya, banyak seni tradisi yang mati. Akibatnya, generasi milenial tidak mengenal seni tradisi, seperti: Dhadhung Awuk, Srandhul, Rodat, Emprak, Kethoprak Lesung, Wayang Beber, Tayub, Wayang Thengul, Wayang Klithik, Wayang Wong, Langendriyan, dsb. Memang terdapat beberapa genre seni tradisi yang masih mendapat perhatian publik, semisal: Wayang Purwa,...

GLADHEN PERSIAPAN SHOLAWATAN PERINGATAN MAULUD NABI DAN PITULASAN

Dengan dihadiri sejumlah anggotanya, Paguyuban Sholawat Langen Ambiya dari kampung Gejawan Kulon, Balecatur, Gamping, Sleman, Yogyakarta mengadakan latihan di Joglo Jagabayan (15/7). Latihan yang dimulai sejak pukul 20.30 hingga 00.15 WiB tersebut ditujukan sebagai persiapan Gelar Sholawat Jawa dalam rangka Peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW pada tanggal 28 Septermber 2023. Latihan Sholaewatan Jawa semalam ditujukan sebagai persiapan pentas dalam acara syukuran Bapak Parimin (Selasa, 25 Juli 2023). Menurut Bapak Sarwoto, selaku pimpinan Paguyuban Sholawat Jawa Langen Ambiya, latihan semalam juga ditujukan sebagai persiapan pentas dalam rangka Peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-78 di Joglo Jagabayan pada Sabtu 19 Agustus 2023. Melalui gelar sholwat diharapkan Indonesia akan senantiasa damai dan sejahtera. (SWA)