Langsung ke konten utama

SYAIR LAGU SHOLAWATAN JAWA "ATUR PAMBAGYA"



Bawa:

Atur pambagya inggih (SUWUK KENDHANG) kula sedaya


Koor:

Sedayane rencang, rencang kula sedaya

Sagunging piyayi ingkang samya lenggah

Ing papan punika, kula sedaya

 

Keparenga matur dhateng pra pamriksa

Amugi sedaya paring pangaksama

Nggih punika araning Slawatan Emprak

Methik saking Serat Babad Ambiya

                                                         

Miturut tuladha Maulud arane kitab

Tuwin nedhak saking jaman kina-kina

Mawi nabi sanga kalih malaekat

Nggih Raden Muthalib lan dipatya

 

Anenggih Slawatan saking paguyuban

Ingkang manggen wonten ing dhusun Gejawan

Sampun paripurna menggah atur kula

Amugi lestantun ing salaminya


 https://www.youtube.com/watch?v=2403fAV7O7k

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENGENAL BERBAGAI GENRE SENI SHOLAWATAN

DITINJAU dari bahasanya, Sholawatan (Slawatan) yang merupakan salah satu genre seni tradisi tersebut terbagi ke dalam Sholawatan Arab, Sholawatan Jawa-Arab, dan Sholawatan Jawa. Disebut Sholawatan Arab, karena lirik lagunya menggunakan bahasa Arab. Sholawatan Jawa-Arab, karena lirik lagunya menggunakan bahasa paduan Jawa-Arab. Sementara, Sholwatan Jawa menggunakan bahasa Jawa dalam lirik lagunya. Berdasarkan napas religinya, Sholawatan dibagi menjadi dua yakni Sholawatan Islam dan Sholawatan Katolik yang sering disebut Slaka. Sholawatan Islam sendiri terbagi ke dalam lima jenis, yakni: Sholawatan Pitutur, Sholawatan Srokal (Asroqol), Sholawatan Maulud, dan Sholawatan Emprak. Sholawatan Pitutur Sholawatan Pitutur yang diiringi slenthem, gender, gong, kendang batangan (gamelan) dan kempul, ketuk, kenting (terbang) berlirik Jawa dan Arab. Para penyolawat bukan hanya laki-laki, namun pula perempuan. Sholawatan Pitutur ini hampir mirip dengan Santi Suara. Selaras namanya, Sholawatan...

GENERASI MILENIAL, PENENTU HIDUP- MATINYA SLAWATAN JAWA

Banyak seni tradisi yang sekarat di negerinya sendiri. Sejatinya, sekaratnya seni tradisi bukan karena pengaruh seni modern. Akan tetapi, para pewarisnya yang tidak merasa handarbeni . Hingga mereka tidak mau melestarikan, mengembangkan, dan memosisikan seni tradisi sebagai tuntunan dan tontonan yang sarat tatanan . Lebih tragis, para pewaris cenderung menempatkan seni tradisi lebih rendah dari seni modern. Tidak heran mereka malu untuk mengakui seni tradisi sebagai miliknya. Mengakui saja, mereka tidak mau. Bagaimana mungkin, mereka menjadi pelaku seni (seniman) tradisi? Mengingat tidak mendapat sentuhan pelestarian dari para pewarisnya, banyak seni tradisi yang mati. Akibatnya, generasi milenial tidak mengenal seni tradisi, seperti: Dhadhung Awuk, Srandhul, Rodat, Emprak, Kethoprak Lesung, Wayang Beber, Tayub, Wayang Thengul, Wayang Klithik, Wayang Wong, Langendriyan, dsb. Memang terdapat beberapa genre seni tradisi yang masih mendapat perhatian publik, semisal: Wayang Purwa,...

GLADHEN PERSIAPAN SHOLAWATAN PERINGATAN MAULUD NABI DAN PITULASAN

Dengan dihadiri sejumlah anggotanya, Paguyuban Sholawat Langen Ambiya dari kampung Gejawan Kulon, Balecatur, Gamping, Sleman, Yogyakarta mengadakan latihan di Joglo Jagabayan (15/7). Latihan yang dimulai sejak pukul 20.30 hingga 00.15 WiB tersebut ditujukan sebagai persiapan Gelar Sholawat Jawa dalam rangka Peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW pada tanggal 28 Septermber 2023. Latihan Sholaewatan Jawa semalam ditujukan sebagai persiapan pentas dalam acara syukuran Bapak Parimin (Selasa, 25 Juli 2023). Menurut Bapak Sarwoto, selaku pimpinan Paguyuban Sholawat Jawa Langen Ambiya, latihan semalam juga ditujukan sebagai persiapan pentas dalam rangka Peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-78 di Joglo Jagabayan pada Sabtu 19 Agustus 2023. Melalui gelar sholwat diharapkan Indonesia akan senantiasa damai dan sejahtera. (SWA)