Langsung ke konten utama

LIRIK LGU GIYAR-GIYAR SHOLAWAT JAWA LANGEN AMBIYA

 



Bawa:

Giyar-giyar widodari tumurana

Koor:

He Allah kawula nyuwun

Paring sandhang lan sedaya

Lan sedayane muslimin

Saha tiyang sepuh kula

Dosa ingkang samar-samar

Kang kelair saha batin

 

Bismillah ingsun amuji

Asmane Allah Tangala

Ingkang sipat jalal kamal

Lawan sipat ingkang kohar

Rohmat sipat ingkang murah

Paring boga marang dasih

 

He Allah kawula nyuwun

Paring sandhang lan sedaya

Lan sedayane muslimin

Saha tiyang sepuh kula

Dosa ingkang samar-samar

Kang kelair saha batin

 

Wasalatu wasalamu

Ya Allah Kang Maha Suci

Gusti Allah aparinga

Rohmat marang Kangjeng Nabi

Ambleberi para umat

Kang manut agama suci

 

He Allah kawula nyuwun

Paring sandhang lan sedaya

Lan sedayane muslimin

Saha tiyang sepuh kula

Dosa ingkang samar-samar

Kang kelair saha batin

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENGENAL BERBAGAI GENRE SENI SHOLAWATAN

DITINJAU dari bahasanya, Sholawatan (Slawatan) yang merupakan salah satu genre seni tradisi tersebut terbagi ke dalam Sholawatan Arab, Sholawatan Jawa-Arab, dan Sholawatan Jawa. Disebut Sholawatan Arab, karena lirik lagunya menggunakan bahasa Arab. Sholawatan Jawa-Arab, karena lirik lagunya menggunakan bahasa paduan Jawa-Arab. Sementara, Sholwatan Jawa menggunakan bahasa Jawa dalam lirik lagunya. Berdasarkan napas religinya, Sholawatan dibagi menjadi dua yakni Sholawatan Islam dan Sholawatan Katolik yang sering disebut Slaka. Sholawatan Islam sendiri terbagi ke dalam lima jenis, yakni: Sholawatan Pitutur, Sholawatan Srokal (Asroqol), Sholawatan Maulud, dan Sholawatan Emprak. Sholawatan Pitutur Sholawatan Pitutur yang diiringi slenthem, gender, gong, kendang batangan (gamelan) dan kempul, ketuk, kenting (terbang) berlirik Jawa dan Arab. Para penyolawat bukan hanya laki-laki, namun pula perempuan. Sholawatan Pitutur ini hampir mirip dengan Santi Suara. Selaras namanya, Sholawatan...

GLADHEN PERSIAPAN SHOLAWATAN PERINGATAN MAULUD NABI DAN PITULASAN

Dengan dihadiri sejumlah anggotanya, Paguyuban Sholawat Langen Ambiya dari kampung Gejawan Kulon, Balecatur, Gamping, Sleman, Yogyakarta mengadakan latihan di Joglo Jagabayan (15/7). Latihan yang dimulai sejak pukul 20.30 hingga 00.15 WiB tersebut ditujukan sebagai persiapan Gelar Sholawat Jawa dalam rangka Peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW pada tanggal 28 Septermber 2023. Latihan Sholaewatan Jawa semalam ditujukan sebagai persiapan pentas dalam acara syukuran Bapak Parimin (Selasa, 25 Juli 2023). Menurut Bapak Sarwoto, selaku pimpinan Paguyuban Sholawat Jawa Langen Ambiya, latihan semalam juga ditujukan sebagai persiapan pentas dalam rangka Peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-78 di Joglo Jagabayan pada Sabtu 19 Agustus 2023. Melalui gelar sholwat diharapkan Indonesia akan senantiasa damai dan sejahtera. (SWA)

GENERASI MILENIAL, PENENTU HIDUP- MATINYA SLAWATAN JAWA

Banyak seni tradisi yang sekarat di negerinya sendiri. Sejatinya, sekaratnya seni tradisi bukan karena pengaruh seni modern. Akan tetapi, para pewarisnya yang tidak merasa handarbeni . Hingga mereka tidak mau melestarikan, mengembangkan, dan memosisikan seni tradisi sebagai tuntunan dan tontonan yang sarat tatanan . Lebih tragis, para pewaris cenderung menempatkan seni tradisi lebih rendah dari seni modern. Tidak heran mereka malu untuk mengakui seni tradisi sebagai miliknya. Mengakui saja, mereka tidak mau. Bagaimana mungkin, mereka menjadi pelaku seni (seniman) tradisi? Mengingat tidak mendapat sentuhan pelestarian dari para pewarisnya, banyak seni tradisi yang mati. Akibatnya, generasi milenial tidak mengenal seni tradisi, seperti: Dhadhung Awuk, Srandhul, Rodat, Emprak, Kethoprak Lesung, Wayang Beber, Tayub, Wayang Thengul, Wayang Klithik, Wayang Wong, Langendriyan, dsb. Memang terdapat beberapa genre seni tradisi yang masih mendapat perhatian publik, semisal: Wayang Purwa,...