Hal menarik untuk diketahui, Emprak memiliki beberipa spesifikasi yang membedakan dengan seni teater tradisional lainnya. Beberapa spesifikasi bahwa cerita Emprak berlatar belakang kisah kelahiran Nabi Muhammad SAW yang bersumber Serat Ambiya. Seluruh pemain di dalam Emprak baik berperan sebagai raja, patih, pendeta, ksatria, putri, senapati, prajurit, cantrik, punakawan, maupun emban menari sewaktu memasuki dan meninggalkan panggung.
Tidak seperti di dalam wayang wong, langen mandra wanara atau langen
driya, pemeran putri dan emban di dalam Emprak diperagakan oleh seorang pria.
Kostum para peraga (selain peraga setan, raksasa, dan harimau) bergaya gedhog
Mataraman. Riasan untuk semua peraga di dalam Emprak di tidak jauh berbeda dengan
riasan para pemain kethoprak.
Alat musik yang terdiri kendang, gong, kempul, kethuk, dean kenting
terbuat dari samak kulit lembu dan kayu nangka. Selain kendang, empat alat
musik tersebut berbentuk serupa terbang. Alat musik yang berupa keprak berfungsi
untuk mengawali, mengakhiri, dan mengganti adegan. Sementara seluruh wiyaga di
dalam Emprak melantunkan syalawat secara koor dengan diiringi musik yang terkesan
sangat monoton, namun magis.
Menghidupkan dan Mengembangkan
Emprak yang menunjukkan gairah kehidupannya pada dekade 60-80an
tersebut sering ditampilkan pada event peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Emprak pula sering ditampilkan pada acara syawalan, pernikahan, mitoni,
syukuran kelahiran bayi, atau khitanan. Namun senasib sebagian besar seni
teater tradisional lain, Emprak mengalami nasib buruk (kematian) semasa
generasi milenium mulai cenderung berselera mengonsumsi karya-karya seni modern
(barat).
Nasib buruk yang menimpa seni Emprak sesungguhnya merupakan kesalahan
kelompok Emprak itu sendiri. Persepsi ini berdasar pada pengamatan, bahwa
kelompok-kelompok Emprak yang melakukan regenerasi namun anti eksplorasi
kreatif dan estetik tersebut sebagai faktor penyebab 'kematian' Emprak.
Masih adakah kemungkinan untuk menghidupkan atau mengembangkan Emprak?
Kemungkinan niscaya ada. Selama terdapat pihak-pihak yang berhasrat untuk
melakukannya. Mengingat Emprak bukan makhluk Tuhan yang hidup dan mati
tergantung di tangah Tuhan. Emprak merupakan hasil budi daya manusia yang mati
dan hidupnya tergantung pada manusia itu sendiri.
Dikarenakan Emprak merupakan seni berbasis teater, maka salah satu
pihak yang tepat untuk menghidupkan dan mengembangkannya adalah para insan
teater. Bukan para mantan anggota atau (sesepuh) Emprak yang sebagian telah
mengalmarhum, dan sebagian yang lain tidak peduli lagi dengan nasib buruk
kesenian tersebut.
Upaya menghidupkan dan mengembangkan Emprak tidak semudah membalik
telapak tangan. Karena kita musti mendapatkan dokumen asli Serat Ambiya yang
merupakan naskah babon di dalam pertunjukan Emprak. Perihal Serat Ambiya bisa
dilacak di dusun Gejawan Kulon atau Kluwih, Balecatur, Gamping, Sleman. Dua
desa yang pernah memiliki kelompok seni Emprak.
Terhadap Serat Ambiya, pengembang Emprak dapat menjadikannya sebagai sumber
di dalam membuat teks pertunjukan yang standar (lengkap dengan dialog antar
peraga). Ini dimaksudkan agar Emprak yang sebelumnya dimainkan oleh para peraga
melalui dialog improvitatif tersebut dapat dimainkan dengan mudah oleh
grup-grup yang baru.
Pengembang Emprak tidak disalahkan untuk melakukan eksplorasi kreatif
dan estetik yang meliputi: setting, tata busana dan rias, serta gaya
pedhalangan. Teknik-teknik permainan teater modern dapat diterapkan di dalam
menopang pengembangan Emprak. Melalui cara ini, Emprak diharapkan dapat hidup
dan berkembang selaras zamannya. Perkembangan yang mengarah pada pengenalan
Emprak sebagai produk budaya leluhur kepada generasinya.
Hal yang perlu ditekankan, bahwa pengembang Emprak bukan selamanya
insan teater. Dinas Kebudayaan seharusnya turut menopang upaya penghidupan dan
pengembangan Emprak baik berupa tutur (saran), sembur (kritik membangun) maupun
uwur (dana).
Catatan Akhir
Apa yang diungkapkan di muka seyogyanya ditangkap sebagai pemikiran kecil terhadap kehidupan kembali dan perkembangan Emprak. Produk budaya yang mengandung nilai-nilai positif di dalam membangun kehidupan religi manusia. Di samping upaya tersebut akan memerkaya khasanah seni-budya di Yogyakarya khususnya dan Nusantara pada umumnya.
Diharapkan pemikiran di muka akan mendapat respons positif dari lingkup
insan berbudaya. Respons yang menstimulir kerja konkret perealisasian upaya
penghidupan dan pengembangan Emprak. Ini lebih penting! Ketimbang kita turut
kebakaran jenggot (sebagaimana pemerintah) terhadap ulah negara lain, sebagai
misal Malaysia yang mengklaim sebagai pemilik terhadap beberapa produk budaya
tradisional Nusantara.
-Sri Wintala Achmad-



Komentar
Posting Komentar